Orang Terbuang

Kala mentari telah senja

Menghadap takdir malam yang pasti

Antara malam dan siang, mentari mengedip padam.

Sekelip lampu minyak tanah, di gubuk tua.

Seorang kakek terbatuk, lelah

Mencangkul ladang, memanen ketelah.

Sekedar pengganjal dari laparnya.

Sendiri, tiada sesiapa

Sendiri dalam menanti pulang, kehadirat.

Orang terbuang

Saudara-saudaranya telah mati.

Teman-temannya sudah pikun.

Tetanggapun telah buta-buta.

Tuan tanah yang dia garap, sibuk bermain teater.

Tetapi naskah-naskah teaternya usang.

Hanya sampul dan gambarnya saja yang berubah

Isi dan cerita serta sekenario tetap feodal dan jadul

Bolong terhujam paku didalam bilik

Paku konde yang berkoin kuno

Lalu ditabung di dalam kotak kardus yang katanya kuat

Orang terbuang

Ada juga yang berkunjung rupanya.

Siapa bilang tak ada yang peduli.

Mereka pelaut, jadi lama di laut.

Setiap lima tahun sekali, baru mendarat.

Lalu ke gunung, ke hutan dan ke kampung-kampung.

Sunggu baik budi orang ini, lembut kata, pintar juga.

Dia menghibur bertopeng lenong, kadang badut.

Mereka berjanji selalu peduli, menitip belanja.

Tetapi mencuri garam di gubuk, setiap tahunnya.

Untuk menggaram lautan yang mereka layari

Yang sudah asin, yang sudah usang.

Orang terbuang

Anak dirampas menantu, Istri dirampas takdir

Raganya dirampas usia, garamnya dicuri.

Orang terbuang, sendiri saja

Menunggu tuhan menjemput pulang.

Berjalan dibecek jalan, berkubang tipuan.

Dalam perjalanan menyusuri katulistiwa.

Oleh. Joni Apero

Palembang, 2 Februari 2019.

Rindu

Ketika mentari menguwak pagi

Secerca cahaya memencar

Diantara remang-remang gelap

Bayang-bayang gunung, bebukitan

Menepis mimpi kelana yang mencari

Menerpa taman bungah yang cantik, kamu.

Hai, telah terbit pajar

Masih ingatkah, engkau

Aku mentari kemarin sore

Yang sering menatapmu di kejauhan

Apa telah lupa

Walau telah berlalu dalam gelap

Kau kubur dalam tidur mu, yang bermimpi.

Aku mentari yang kemarin

Yang menatap, yang menyinari

Aku tidak sabar menanti siang

Hanya sekedar untuk menatap mu

Yang mekar di taman.

Oleh. Joni Apero

Palembang, 5 Agustus 2019.

By. Apero Fublic